Selasa, 06 November 2012

PENGERTIAN, SEJARAH DAN PENERAPAN ONLINE ASESSMENT


EVALUASI HASIL BELAJAR
PENGERTIAN DAN SEJARAH PENERAPAN ONLINE ASSESSMENT

Kelompok 5B1
Anggota :
1.      Siti Masruroh              (1010251052)
2.      Siska Anggun PL        (1010251058)
3.      Ellayunusia HA           (1010251060)
4.      Hari Firman Dani        (1010251061)
5.      Danar Nabila P            (1010251066)

A.    PENGERTIAN ONLINE ASSESSMENT
Online assessment terdiri dari 2 kata. Online dan assessment. Pengertian dari online adalah penggunaan jaringan internet dalam melakukan suatu kegiatan. Sementara pengertian dari assesment adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak, dan dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi berhubungan dengan keputusan nilai (value judgement). Stufflebeam (Abin Syamsuddin Makmun, 1996). Dari 2 pengertian tersebut, dapat ditarik kesimpulan bahwa online assesment adalah pelaksanaan evaluasi yang menggunakan jaringan internet sebagai media penyampaian evaluasi.
Terdapat beberapa pakar yang mengemukakan pengertian dari assesment, diantaranya adalah:
a.       Menurut Robert M Smith (2002)
“Suatu penilaian yang komprehensif dan melibatkan anggota tim untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan yang mana hsil keputusannya dapat digunakan untuk layanan pendidikan yang dibutuhkan anak sebagai dasar untuk menyusun suatu rancangan pembelajaran.
b.      Menurut James A. Mc. Lounghlin & Rena B Lewis
“Proses sistematika dalam mengumpulkan data seseorang anak yang berfungsi untuk melihat kemampuan dan kesulitan yang dihadapi seseorang saat itu, sebagai bahan untuk menentukan apa yang sesungguhnya dibutuhkan. Berdasarkan informasi tersebut guru akan dapat menyusun program pembelajaran yang bersifat realitas sesuai dengan kenyataan objektif.
c.       Menurut Bomstein dan Kazdin (1985)
  • Mengidentifikasi masalah dan menyeleksi target intervensi
  • Memilih dan mendesain program treatmen
  • Mengukur dampak treatmen yang diberikan secara terus menerus.
  • Mengevaluasi hasil-hasil umum dan ketepatan dari terapi.
d.      Menurut Lidz 2003
Proses pengumpulan informasi untuk mendapatkan profil psikologis anak yang meliputi gejala dan intensitasnya, kendala-kendala yang dialami kelebihan dan kelemahannya, serta peran penting yang dibutuhkan anak.
e.       Menurut Buana (www.fajar.co.id/news.php). assessment adalah alih-bahasa dari istilah penilaian. Penilaian digunakan dalam konteks yang lebih sempit daripada evaluasi dan biasanya dilaksanakan secara internal. Penilaian atau assessment adalah kegiatan menentukan nilai suatu objek, seperti baik-buruk, efektif-tidak efektif, berhasil-tidak berhasil, dan semacamnya sesuai dengan kriteria atau tolak ukur yang telah ditetapkan sebelumnya.
f.       Menurut Angelo (1991: 17) Classroom Assessment is a simple method faculty can use to collect feedback, early and often, on how well their students are learning what they are being taught. (Penilaian Kelas adalah suatu metode yang sederhana dapat menggunakan fakultas (sekolah) untuk mengumpulkan umpan balik, awal dan setelahnya, pada seberapa baik para siswa mereka belajar apa yang mereka ajarkan.)
g.      Menurut Suharsimi yang dikutip oleh Sridadi(2007) penilaian adalah suatu usaha yang dilakukan dalam pengambilan keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik-buruk → bersifat kualitatif
h.      Menurut Depag yang dikutip Sridadi (2007) penilaian adalah suatu usaha untuk mengumpulkan berbagai informasi secara berkesinambungan dan menyeluruh tentang proses dan hasil belajar yang telah dicapai oleh siswa melalui kegiatan belajar mengajar yang ditetapkan sehingga dapat dijadikan dasar untuk menentukan langkah selanjutnya.
i.        Menurut Rusli Lutan (2000:9) assessment termasuk pelaksanaan tes dan evaluasi. Asessment bertujuan untuk menyediakan informasi yang selanjutkan digunakan untuk keperluan informasi.

B.     SEJARAH ONLINE ASSESMENT
E-learning atau pembelajaran elektronik pertama kali diperkenalkan oleh universitas Illionis di Urbana-Champaign dengan menggunakan sistem instruksi berbasis komputer (computer-assisted instruktion) dan komputer bernama PLATO. Sejak saat itu, perkembangan e-learning berkembang sejalan dengan perkembangan dan kemajuan teknologi. Berikut perkembangan e-learning dari masa ke masa :
  • Tahun 1990 : Era CBT (Computer-Based Training) di mana mulai bermunculan aplikasi e-learning yang berjalan dalam PC standlone ataupun berbentuk kemasan CD-ROM. Isi materi dalam bentuk tulisan maupun multimedia (Video dan Audio) DALAM FORMAT
    mov, mpeg-1, atau avi.
  • Tahun 1994 : Seiring dengan diterimanya CBT oleh masyarakat sejak tahun 1994 CBT muncul dalam bentuk paket-paket yang lebih menarik dan diproduksi secara masal.
  • Tahun 1997 : LMS (Learning Management System). Seiring dengan perkembangan teknologi internet, masyarakat di dunia mulai terkoneksi dengan internet. Kebutuhan akan informasi yang dapat diperoleh dengan cepat mulai dirasakan sebagai kebutuhan mutlak dan jarak serta lokasi bukanlah halangan lagi. Dari sinilah muncul LMS. Perkembangan LMS yang makin pesat membuat pemikiran baru untuk mengatasi masalah interoperability antar LMS yang satu dengan lainnya secara standar. Bentuk standar yang muncul misalnya standar yang dikeluarkan oleh AICC (Airline Industry CBT Commettee), IMS, IEEE LOM, ARIADNE, dsb.
  • Tahun 1999 sebagai tahun Aplikasi E-learning berbasis Web. Perkembangan LMS menuju aplikasi e-learning berbasis Web berkembang secara total, baik untuk pembelajar (learner) maupun administrasi belajar mengajarnya. LMS mulai digabungkan dengan situs-situs informasi, majalah dan surat kabar. Isinya juga semakin kaya dengan perpaduan multimedia, video streaming serta penampilan interaktif dalam berbagai pilihan format data yang lebih standar dan berukuran kecil.
Istilah e-Learning 2.0 digunakan untuk merujuk kepada cara pandang baru terhadap pembelajaran elektronik yang terinspirasi oleh munculnya teknologi Web 2.0. Sistem konvensional pembelajaran elektronik biasanya berbasis pada paket pelajaran yang disampaikan kepada siswa dengan menggunakan teknologi Internet (biasanya melalui LMS). Peran siswa dalam pembelajaran terdiri dari pembacaan dan mempersiapkan tugas. Kemudian tugas dievaluasi oleh guru. Sebaliknya, e-learning 2.0 memiliki penekanan pada pembelajaran yang bersifat sosial dan penggunaan perangkat lunak sosial (social networking) seperti blog, wiki, podcast dan Second Life. Fenomena ini juga telah disebut sebagai Long Tail learning.
Melihat perkembangan e-learning dari dari masa ke masa yang terus berkembang mengikuti perkembangan teknologi, maka dapat disimpulkan bahwa e-learning akan menjadi sistem pemblajaran masa depan. Alasan efektifitas dan fleksibilitas akan menjadi alasan utama.
C.    PENERAPAN ONLINE ASSESMENT TINGKAT INTERNASIONAL, NASIONAL DAN LOKAL
1.      Internasional
Pada dasarnya di tingkat internasional, online assessment telah mengawali terbukanya system penilaian secara online. Hal ini nampak pada kegiatan yang dilakukan oleh universitas Illionis di Urbana-Champaign yang mengawali terbentuknya online assessment. Dengan demikian penerapan online assessment di tingkat internasional sudah tidak diragukan lagi.
Program Penilaian Pelajar Internasional (Bahasa Inggris: Program for International Student Assessment, disingkat PISA) adalah penilaian tingkat dunia yang diselenggarakan tiga-tahunan, untuk menguji performa akademis anak-anak sekolah yang berusia 15 tahun, dan penyelenggaraannya dilaksanakan oleh Organisasi untuk Kerjasama dan Pengembangan Ekonomi (OECD). Tujuan dari studi PISA adalah untuk menguji dan membandingkan prestasi anak-anak sekolah di seluruh dunia, dengan maksud untuk meningkatkan metode-metode pendidikan dan hasil-hasilnya.
Learning Management System (biasa disingkat LMS) adalah aplikasi perangkat lunak untuk dokumentasi, administrasi, pelacakan, pelaporan program pelatihan, kelas dan kegiatan ‘’online’’, program pembelajaran elektronik (e-learning program), dan isi pelatihan. Sebuah LMS yang kuat harus bisa melakukan hal berikut:
§  memusatkan dan mengotomatisasi administrasi
§  menggunakan layanan ‘’self-service’’ dan ‘’self-guided’’
§  mengumpulkan dan menyampaikan konten pembelajaran dengan cepat
§  mengkonsolidasikan inisiatif pelatihan pada platform berbasis ‘’web scalable’’
§  mendukung portabilitas dan standar
§  personalisasi isi dan memungkinkan penggunaan kembali pengetahuan.
LMS merupakan sistem untuk mengelola catatan pelatihan dan pendidikan, perangkat lunaknya untuk mendistribusikan program melalui internet dengan fitur untuk kolaborasi secara ‘’online’’. Dalam pelatihan korporasi, LMS biasanya digunakan untuk mengotomatisasi pencatatan dan pendaftaran karyawan. Dimensi untuk belajar sistem manajemen meliputi ‘’Students self-service’’ (misalnya, registrasi mandiri yang dipimpin instruktur pelatihan), pelatihan alur kerja (misalnya, pemberitahuan pengguna, persetujuan manajer, daftar tunggu manajemen), penyediaan pembelajaran ‘’online’’ (misalnya, pelatihan berbasis komputer, membaca & memahami), penilaian ‘’online’’, manajemen pendidikan profesional berkelanjutan (CPE), pembelajaran kolaboratif (misalnya, berbagi aplikasi, diskusi), dan pelatihan manajemen sumber daya (misalnya, instruktur, fasilitas, peralatan). LMS juga digunakan oleh regulasi industri (misalnya jasa keuangan dan biopharma) untuk pelatihan kepatuhan. Mereka juga digunakan oleh institusi pendidikan untuk meningkatkan dan mendukung program pengajaran di kelas dan menawarkan kursus untuk populasi yang lebih besar yaitu seluruh dunia. Beberapa penyedia LMS termasuk "sistem manajemen kinerja" meliputi penilaian karyawan, manajemen kompetensi, analisis keterampilan, perencanaan suksesi, dan penilaian ‘’multi-rater’’ (misalnya, review 360 derajat). Teknik modern sekarang menggunakan pembelajaran berbasis kompetensi untuk menemukan kesenjangan belajar dan panduan materi seleksi pelatihan.
2.      Nasional
Penggunaan ICT (Information and Communication Technology)  disekolah saat ini, tidak dapat dihindari selain dikarenakan dengan kemajuan jaman yang mengharuskan sekolah untuk berinovasi, juga dikarenakan tanggung jawab yang besar terhadap  masyarakat. Tanggung jawab itu meliputi, membantu menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian serta mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan kesenian serta mengupayakan penggunaan untuk meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya kebudayaan nasional (Lubis,2004 : 2). Kesemua tanggung jawab itu tidak akan dapat berjalan dengan lancar bila sekolah menutup mata dengan penggunaan ICT.
Tapi kondisinya sekolah sering mendapat sorotan dan kecaman yang tajam dan dicap sebagai tempat yang membosankan, tak relevan. Sekolah dianggap angkuh, tak menghiraukan kemampuan siswa dalam belajar (Nasution, 1999:86). Banyak kritik itu dikarenakan oleh strategi mengajar yang tidak serasi, yang tidak menggunakan alat serta sumber belajar mengajar secara kreatif. Sekolah terlampau dikuasai oleh metode ceramah dimana guru sebagai sumber ilmu utama. Kurang optimalnya penggunaan ICT dalam pembelajaran berdampak proses belajar mengajar kurang menarik, hanya karena tirani angka-angka memaksa siswa di dalam kelas.
Untuk dapat menghasilkan lulusan dengan kompetensi terbaik, sekolah perlu melakukan perbaikan yang kontinu terhadap fasilitas pembelajaran yang dimiliki. Salah satu bentuk fasilitas pembelajaran yang dapat memberikan kontribusi terhadap kualitas kemampuan dan keterampilan serta motivasi belajar pada siswa adalah ketersediaan serta pemanfaatan media pembelajaran. Karena menurut Daryanto (2005:51), ketersediaan media pembelajaran yang kurang dan tidak memadai akan menghambat proses belajar dan mengajar yang tentunya akan berimbas motivasi belajar pun akan berkurang.
Keberadaan sekolah dalam keseluruhan kehidupan berbangsa dan bernegara, mempunyai peran yang amat besar yaitu menghasilkan lulusan berkualitas secara intelektual dan profesional, menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi dan ikut serta dalam memecahkan masalah nasional, masyarakat, bangsanya, maupun masalah kemanusiaan (Soedijarto,2008 : 220)
Sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan yang penting setelah keluarga yang berfungsi membantu keluarga yang menyerahkan anaknya ke sekolah untuk di didik (Djumransjah,2006:146), agar menjadi sosok manusia yang berpendidikan, tanpa melihat latar belakang siswa yang terlibat di dalamnya. Sekolah menjadi suatu organisasi yang dirancang untuk dapat memberikan kontribusi dalam upaya peningkatan kualitas hidup masyarakat. Dalam hal ini sekolah harus dapat dikelola dan diberdayakan agar mampu mewujudkan dan memproses siswa yang pada akhirnya akan menghasilkan SDM yang berkualitas.
Pandangan masyarakat tentang sekolah berkualitas, unggulan atau sekolah juara, sangat bervariatif. Sebagian besar masyarakat, belum banyak mengetahui apa yang dimaksudkan dengan istilah itu. Umumnya, masyarakat mengartikan sekolah berkualitas, dengan sekolah yang lulusannya pintar, nilai bagus, indikatornya banyak dari lulusan sekolah tersebut diterima di perguruan tinggi bergengsi di negeri ini.
Ciri lainnya, sekolah berkualitas, unggulan, juara adalah karena banyak peminatnya karena hal ini di tunjang dengan sebuah media website sekolah. Artinya, jumlah yang mendaftar di sekolah tersebut jauh lebih banyak dibandingkan dengan jumlah yang dapat diterima. Dari pandangan ini, berarti semakin banyak jumlah lulusan yang diterima di Perguruan Tinggi bergengsi serta semakin banyak jumlah pendaftar yang ingin masuk ke sekolah itu, maka semakin menunjukkan tingkat keunggulan sekolah bersangkutan.
Secara pasti, tidak ada batasan yang definitif tentang sekolah berkualitas, karena konsep itu sifatnya tentatif, kondisional, terikat oleh waktu dan tempat, sesuai kecenderungan apa yang tengah menjadi kebutuhan masyarakat, dan tergantung dengan kondisi sekolah bandingannya.
Karena itu, apa pun definisi yang dibuat masyarakat tentang sekolah berkualitas, unggul, juara, adalah sah-sah saja. Bahkan, dalam batas-batas tertentu perlu dipertimbangkan dan diakomodasi. Tetapi, bagi para pengelola pendidikan, konsep sekolah berkualitas ini perlu dirumuskan secara lebih operasional, agar indikator-indikatornya bisa dilihat bahkan bisa diukur secara jelas.
Secara lebih kontekstual dan operasional sesuai dengan tantangan dan kebutuhan masyarakat dewasa ini, sekolah berkualitas bisa diartikan merupakan sekolah yang dapat melahirkan lulusan yang mandiri, yang dapat membuka lapangan kerja, bukan pencari kerja yang memberi konstribusi semakin tambahnya jumlah penganggur terdidik dan terselubung.
Dengan demikian, indikator kualitas dan keunggulannya, selain dilihat dari seberapa besar dan seberapa banyak kesiapan lulusannya untuk mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi, juga dapat diukur dengan semakin banyaknya dari mereka yang hidup mandiri, karena kemampuan keterampilannya dan kekuatan wawasan kewirausahaannya.
Penilaian siswa secara online melalui sebuah website sekolah hanya baru-baru ini secara luas dianut, dan masih menghadapi perlawanan yang signifikan. Mereka sering dianggap sebagai kurang dapat diandalkan, lebih mahal, lebih sulit untuk mengelola, dan kurang efektif daripada pena tradisional dan ujian kertas. Kekhawatiran terbesar dari penilaian siswa online adalah bahwa mereka hanya tidak efektif. Sementara penelitian telah menunjukkan hal ini kadang-kadang benar, penyebabnya adalah tidak sering dialamatkan. Alasan ujian online tidak efektif adalah karena, dalam banyak kasus, siswa tidak memadai diinstruksikan tentang bagaimana mempersiapkan untuk online dalam sebuah internet.
Ada beberapa alasan mengapa penilaian siswa online melalui pembelajaran E Learning lebih efektif daripada ujian tradisional. Pertama merangkul teknologi dan hal ini memungkinkan tech-savvy (kecerdasan berteknologi) khususnya pembelajaran E Learning hari ini siswa untuk terlibat dalam cara yang jauh lebih alami dan akrab bagi mereka, menciptakan insentif bagi mereka untuk menjadi jauh lebih aktif terlibat daripada yang mungkin dengan pena dan kertas. Pendekatan buka-buku juga tantangan penilaian siswa dengan cara yang baru, meninggalkan menghafal hanya dalam mendukung pemikiran kritis, aplikasi praktis, dan keterampilan organisasi. Pendekatan ini jauh lebih dalam memelihara berpikir analitis, dan mempromosikan pendekatan yang lebih praktis untuk memecahkan masalah yang lebih mudah diterapkan pada situasi dunia nyata. Siswa juga jauh lebih bertanggung jawab atas kesuksesan mereka sendiri atau kegagalan pada tes tersebut, yang membantu untuk mengembangkan lebih self-tanggung jawab, ketekunan dan etos kerja.
Dewasa ini pendidikan tes online melalui program pembelajaran E Learning, yang sedang mempertimbangkan mengejar pendidikan berkelanjutan memiliki berbagai pilihan ketika datang untuk mendapatkan gelar atau sertifikat.
Penggunaan teknologi informasi untuk setiap tes atau ujian kegiatan yang terkait dikenal sebagai tes online. Strategi semacam ini pengujian dapat digunakan untuk menguji pengetahuan praktis, keterampilan pribadi antar, kecerdasan, keterampilan dll logis atas sistem komputer dengan waktu yang fleksibel. Dalam situasi tertentu, sesi uji diambil secara online secara real time tetapi transfer data sebelum dan setelah sesi tes ditransfer melalui internet.
Ada banyak keuntungan dari tes online selama pengujian berbasis kertas tradisional. Beberapa keuntungan antara lain:
• Mengurangi biaya jangka panjang
• Memberikan umpan balik kepada pengguna di tempat seperti nilai atau lulusan
• Menyediakan fleksibilitas dalam hal timing dan lokasi sebagai dilakukan melalui internet
• Mengurangi kemungkinan kesalahan manusia dalam hal membuat kesalahan menandai sebagai tanda kemampuan mesin jauh lebih dapat diandalkan dan kesalahan kurang dari kemampuan manusia menandai
• sangat kurang fisik ruang Relatif diperlukan - jutaan lembar jawaban disimpan pada disk data pada server yang dibutuhkan ruang kurang fisik dari kertas lembar jawaban
• Penggunaan multimedia yang membuat gaya tes yang lebih interaktif seperti menggunakan flash, video dan gambar membuat pertanyaan-pertanyaan lebih dimengerti
Ada banyak alat dan situs website sekolah yang tersedia online untuk membuat tes dan mempersiapkan satu sebelum menghadapi tes yang sesungguhnya, latihan tes online akan membiarkan Anda tahu bagaimana menganalisis tes nyata dan mempersiapkan diri untuk itu.
Singkatnya, untuk pengambil tes, mereka memiliki kebebasan untuk melakukan tes online pada saat pilihan mereka sendiri, berarti fleksibilitas yang besar, sementara untuk pelatih atau guru, Karena tes online dinilai secara otomatis memberikan relaksasi dari tanda itu, berarti menghemat waktu besar, dan untuk organisasi, menghemat baik jumlah uang yang dibelanjakan pada instruktur untuk menggunakan tes, merancang dan mencetak jutaan kertas tes, berarti ekonomis.

3.      Lokal
Ibaratnya seperti mata kuliah kita yang saat ini bernama evaluasi hasil belajar, kita diharapkan untuk dapat menerapkannya pada mata kuliah ini. Kita mendapat tugas untuk membuat soal bagi siswa sekolah menengah pertama (SMP) yang kita upload ke asesmen. Kita diharapkan dapat mengevaluasi nilai dari soal yang mereka kerjakan, jadi kita dapat memperoleh nilai mereka dengan sangat mudah.
Jadi dapat kita artikan bahwa asesmen dapat kita terapkan pada dunia pendidikan khususnya pada saat kita akan mengevaluasi mata pelajaran yang akan kitaujikan pada siswa. Tapi meskipun kita dapat dengan mudah mengevaluasinya kita tidak dapat dengan mudah menguploadnya pada asesmen tersebut.
Karena pada dasarnya masih banyak kendala dalam penerapan asesmen ini, sebab jika kita menerapkannya pada daerah kota mungkin kita dapat menjalankannya secara lancar, tetapi kita tidak dapat menjalankannya jika kita berada di daerah yang sedikit agak terpencil, sebab penerapan asesmen ini memerlukan koneksi internet, sedangkan di daerah yang agak terpencil sangat kurang koneksi internetnya.
Penerapan asesmen ini dalam penilaian online lokal sebenernya belum mencapai dari kata sempurna, masih banyak lagi hal-hal yang perlu di perbaiki lagi dari asesmen ini. Selain dari kendala internet bisa jadi penilaian online lokal ini juga terkendala dari arah luar, maksudnya jika aliran listrik mati, bisa jadi nilai anak yang tadi terhambat, dari masalah nilai, karena pasti akan menghabiskan waktu yang cukup banyak.





Faktor Pendukung dan Penghambat Penerapan Online Asessment di Sekolah


Perkembangan tekhnologi telah merubah sebagian besar cara hidup manusia dalam melakukan kegiatan. Setip hari, bahkan setiap saat tekhnologi dapat mempermudah sebuah proses yang tadinya sangat panjang, membutuhkan waktu serta tenaga dan biaya. Tekhnologi bias menjadi solusi dari beberapa permasalahan dan merupakan bagian yang sangat penting hampir segala aspek kehidupan termasuk dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan hal yang sangat penting bagi manusia dengan meingkatnya kesadaran akan manfaat dari ilmu dan pengetahuan yang dipelajari saat ini setiap orang bisa belajar tanpa teharang jarak, ruang dan waktu dengan metode pembelajaran elearning dengan antuan computer. Dalam pembelajaran terdapat pula proses penilaian yang dinamakan assessment.
Assessment Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik.Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut.
Tes adalah cara penilaian yang dirancang dan dilaksanakan kepada peserta didik pada waktu dan tempat tertentu serta dalam kondisi yang memnuhi syarat-syarat tertentu yang jelas. Secara khusus, dalam konteks pembelajaran di kelas, penilaian dilakukan untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik/perbaikan proses belajar mengajar, dan penentuan kenaikan kelas. Melalui penilaian dapat diperoleh informasi yang akurat tentang penyelenggaraan pembelajaran dan keberhasilan belajar peserta didik, guru, serta proses pembelajaran itu sendiri. Berdasarkan informasi itu, dapat dibuat keputusan tentang pembelajaran, kesulitan peserta didik dan upaya bimbingan yang diperlukan serta keberadaan kurikulum itu sendiri.
Online assessment merupakan salah satu cara untuk melakukan penilaian melalui media elektronik dengan menggunakan jaringan internet. Online Assessment masih belum familiar dikalangan lembaga pendidikan khususnya sekolah yang masih belum canggih tentang pengetahuan jaringan internetnya. Pada umumnya baik guru ataupun warga sekolah yang lain belum pernah menggunakan oline assessment dikarenakan pengetahuan mereka yang minim dan selalu terpacu pada penilaian manual yaitu siswa mengerjakan soal dengan menggunakan media kertas dan dikumpulkan kemudian guru menilai hasil siswa satu persatu.
            Minimnya pengetahuan guru menyebabkan proses penilaian menjadi lama dan hasil  yang didapatpun terkadang salah dan saat proses penilaiannya pun tidak diketahui guru secara riil. Saat proses penilaian berlangsung misalnya saja saat mengerjakan ulangan harian siswa bisa saja tidak mengerjakan sendiri dan hasilnya pun tidak murni terlebih lagi waktu yang diberikan terkadang terlalu lama sehingga siswa dapat berkreasi jika ada jawaban yang lebih benar setelah melihat hasil pekerjaan teman.
            Berbeda dengan menggunakan media elektronik, seorang guru saat melakukan penilaian siswa dapat dipantau satu persatu hanya dari sebuah computer, apa saja yang dilakukan oleh siswa saat proses penilaian (ujian) berlangsung dapat diketahui. Hal ini disebabkan oleh adanya jaringan yang terhubung antara computer satu dengan yang lainnya dan pusat kontrolnya adalah computer yang dipegang oleh guru. Saat pengerjaan ujian pun setiap soal yang diberikan bisa diberi waktu pengerjaannya dan jika waktu telah terlampaui maka siswa tidak dapat melihat soal yang sebelumnya.

Adapun faktor – faktor yang dapat mendukung dalam proses penilaian online adalah :
a.       Izin dari pihak sekolah.
Izin pihak sekolah merupakan factor yang sangat penting karena izin yang diberikan oleh pihak sekolah dapat memperlancar proses pembelajaran secara online begitu pula dengan penilaian online. Jika tidak mendapat izin dari pihak sekolah maka pembelajaran dan penilaian secara online tidak dapat digunakan.
b.      Adanya media.
Media juga merupakan factor yang sangat mendukung kegiatan pembelajaran online. Mengapa media juga menjadi factor yang penting karena mengingat bahwa digunakannya penilaian secara online membutuhkan media yang berupa computer dan jaringan internet. Computer yang dibutuhkan dalam jumlah besar. Walaupun izin sudah di berikan oleh pihak sekolah namun sekolah tidak memiliki media yang berupa computer maka online assessment tidak dapat digunakan .
c.       Adanya jaringan internet.
Selain izin dari pihak sekolah dan media yang digunakan jaringan internet sangat berperan penting karena jika terdapat jaringan internet proses online sendiri membutuhkan jaringan internet agar saling terhubung antara satu dengan yang lainnya.
d.      Daya listrik yang memadai
Daya yang digunakan dalam menggunakan media computer harus memiliki daya yang cukup besar karena jika daya yang ada di sekolah kecil media computer tidak dapat digunakan karena akan sering mati akibatnya akan mempengaruhi pada nilai peserta ujian.
e.       Soal yang dibuat sudah memenuhi prinsip-prinsip pembuatan soal.
Dalam pembuatan soal harus memenuhi prinsip-prinsip dalam pembuatan soal. Soal yang dibuat harus jelas tidak membingungkan siswa ketika mengerjakan soal dalam online assessment.
Adapun factor-faktor yang menyebabkan Online Assessment terhambat yaitu:
1.      Koneksi
Pada dasarnya disetiap sekolah memiliki koneksi internet akan tetapi terkadang pemakaian koneksi tersebut dibatasi. Maksudnya, koneksi internet atau jaringan internet yang digunakan hanya berlaku pada kalangan guru dan hanya bisa digunakan pada laboratorium TI dan ruang guru saja. Sedangkan siswa tidak memiliki kesempatan untuk melakukan koneksi di internet.
Mata pelajaran yang hanya menggunakan koneksi internetpun hanya pada saat mata pelajaran TI saja sedangkan mata pelajaran yang lainnya berada di kelas dan tidak berhubungan dengan koneksi internet. Walaupun ada mata pelajaran lain misalnya matematika saat ulangan akan menggunakan online assessment hal tersebut sangat minim kemungkinannya untuk dapat dilaksanakan karena koneksi yang ada dibatasi.  
2.      Human error
Human error merupakan salah satu factor penghambat adanya online assessment yang akan dilakukan di sekolah karena minim sekali orang yang paham terhadap cara penggunaan online assessment. Sehingga jika dihadapkan dengan online assessment tidak sedikit orang yang saat menggunakannya mengalami kesulitan dan terjadi kesalahan sewaktu melaksanakan online assessment, sehingga hasil penilaian yang didapat tidak valid dan akurat.
3.      Keterbatasan waktu
Untuk melakukan online assessment waktu pengaksesan bisa diatur. Keterbatasan waktu yang dimaksud yaitu saat pelaksanaan online assessment jika siswa terlambat mengakses dan tidak sesuai dengan waktu yang telah ditentukan dan ditetapkan maka siswa tersebut tidak dapat mengikuti online assessment dan dianggap tidak mengikuti ujian.
4.      Keterbatasan pengetahuan
Online assessment memang bersifat umum penggunaannya, semua kalangan bisa menggunakannya akan tetapi hanya beberapa sekolah yang menggunakan system penilaian tersebut. Hal tersebut karena dikalangan guru hal ini masih dianggap tabu karena kebiasaan guru saat melakukan penilaian menggunakan cara yang manual.
Banyak yang beranggapan bahwa online assessment terlalu rumit dan hanya dipahami oleh kalangan tertentu saja.
5.      Keterbatasan media
Masih banyak sekolah yang memiliki media elektronik (komputer) terbatas. Misalnya saja computer yang dimiliki jumlahnya sedikit dan tidak memenuhi kapasitas jumlah siswa satu kelas sehingga untuk menggunakannya terkadang satu computer terdiri dari beberapa siswa. Hal tersebut yang menyebabkan online assessment terhambat untuk dapat dilaksanakan.
6.      Pihak sekolah
Tidak banyak sekolah yang dapat menerima online assessment (penilaian online) dikarenakan banyak warga sekolah khususnya guru tidak mengerti dan paham kegunaan online assessment. Mereka beranggapan bahwa system penilaian online membuang waktu dan sulit untuk direalisasikan karena banyak persiapan yang harus dilakukan sedangkan waktu yang tersedia sangat terbatas. Oleh sebab itu, tak banyak pihak sekolah yang mendukung online assessment.

Untuk menysusun suatu online asessment (penilaian online) dalam pelaksanaannya tidak seperti yang biasa dilakukan dengan penilai yang seperti biasanya atau secara manual, dibutuhkan beberapa sarana dan prasarana yang harus mendukung, sehingga ketika proses asessmen berlangsung semua yang sudah terencana dapat berjalan dengan lancar. Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat untuk mencapai maksud atau tujuan; alat; media (KBBI). Sedangkan prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses (usaha, pembangunan, proyek, dsb) (KBBI). Jadi sarana dan prasarana merupkan unsur yang sangat penting dalam melakukan online asessment (penilaian online), karena terkait dengan proses ketika pelaksanaan penilaian berlangsung. Berikut ini akan dibahas satu-persatu sarana dan prasarana apa saja yang harus disiapkan sehingga memungkinkan untuk melakukan online asessment (penilaian online) dan juga sarana dan prasarana apa saja yang menghambat untuk dilakukan online asessment (penilaian online).
Sarana dan prasarana yang memungkinkan untuk melakukan online asessment (penilaian online) adalah:
1)        Komputer
Komponen ini merupakan kompenen yang sangat penting dalam melakukan online asessment (penilaian online), karena komputer merupakan alat atau media untuk menampilkan/ menginputkan soal maupun opsi pilihan. Untuk spesifikasi komputer yang digunakan tidak terlalu spesifik atau secara khusus, yang terpenting komputer yang digunakan sudah terinstal OS (operating system) seperti Windows XP, Windows7, Linux, dll. serta terdapat layanan untuk mengakses dunia maya (internet), misalnya: Mozila Firefox, Internet Explorer, Opera, dll. Selain menggunakan komputer dapat juga menggunakan Laptop atau Netbook.
2)        Jumlah Komputer pada Laboratarium
Sarana yang diperlukan selanjutnya adalah jumlah komputer yang disediakan oleh pihak sekolah atau yang ada di laboratarium. Sarana yang memungkinkan untuk dilakukannya online asessment (penilaian online) adalah jumlah komputer yang ada di laboratarium sesuai dengan jumlah siswa atau testee yang akan melakukan test. Kebanyakan penghambat utama pada online asessment (penilaian online) adalah masalah kuota komputer tidak seimbang dengan jumlah siswa. Terkadang koputer sudah memadai tetapi banyak yang sudah rusak. Hal ini merupakan sesuatu yang menghambat dalam melaksanakan online asessment (penilaian online). Oleh karena itu sebelum melakukan online asessment (penilaian online) diharapakan untuk mengecek terlebih dahulu kuota komputer yang bisa digunakan dengan jumlah siswa atau tetstee yang akan menggunakan online asessment (penilaian online).
3)        Lab Jaringan Komputer
Salah satu sarana yang sangat penting yang berhubungan dengan komputer adalah jaringan internet. Walaupun terdapatlaboratarium disekolah tetapi jika tidak terhubung dengan internet, maka sama halnya tidak bisa digunakan untuk online asessment. Ada alternatif lain jika ingin menggunakan online asessment tanpa menggunakan ISP (Internet Service Provider) dengan cara intranet atau buat koneksi antar komputer di dalam laboratarium tersebut (peer to peer). Tetapi hanya bisa digunakan didalam lab tersebut saja, tidak bisa digunakan di luar lab. Jadi sesuai namanya yaitu online asessment maka laboratarium atau komputer yang kita gunakan haruslah yang mempunyai koneksi dengan dunia maya (internet).
4)        Conection
Pada sarana yang ini pada dasarnya tidak begitu prioritas, karena bisa terhubung dengan dunia maya saja sudah cukup. Namun yang perlu dipertimbangkan lagi. Seberapa besar file yang harus kita akses ketika baru pertama kali membuka situs online asessment. Karena ketika testee sudah mengakses soal yang dimaksud, maka akses akan ringan
5)        Daya listrik yang Memadai
Daya listrik yang digunakan di laboratarium di setiap satuan pendidikan harus disesuaikan, agar dalam menggunakan lab tidak terjadi konsleting karena kurangnya daya listrik. Jadi sesuaikan daya listrik dengan jumlah komponen komputer yang ada di laboratarium, dianjurkan untuk melebihi.
Prasarana yang memungkinkan dan menghambat diterapkannya online assessment
Prasarana yang memungkinkan diterapkannya online assessment  meliputi moodle, server, siswa, materi, soal, kemampuan siswa dalam mengoprasikan moodle.
1.      Moodle
Moodle (singkatan dari Modular Object-Oriented Dynamic Learning Environment) adalah paket perangkat lunak yang diproduksi untuk kegiatan belajar berbasis internet dan situs web yang menggunakan prinsip social constructionist pedagogy. MOODLE merupakan salah satu aplikasi dari konsep dan mekanisme belajar mengajar yang memanfaatkan teknologi informasi, yang dikenal dengan konsep pembelajaran elektronik atau e-learning. Moodle dapat digunakan secara bebas sebagai produk sumber terbuka (open source) di bawah lisensi GNU. Moodle dapat diinstal di komputer dan sistem operasi apapun yang bisa menjalankan PHP dan mendukung database SQL.Berdasarkan social constructionist pedagogy, cara terbaik untuk belajar adalah dari sudut pandang murid itu sendiri. Model pengajaran berorientasi objek (murid) ini berbeda dengan sistem pengajaran tradisional yang biasanya memberikan informasi atau materi yang dianggap perlu oleh pengajar untuk diberikan kepada murid. Tugas pengajar akan berubah dari sumber informasi menjadi orang yang memberikan pengaruh (influencer) dan menjadi contoh dari budaya kelas. Peran pengajar dalam sistem Moodle ini antara lain: berhubungan dengan murid-murid secara perorangan untuk memahami kebutuhan belajar mereka dan memoderatori diskusi serta aktivitas yang mengarahkan murid untuk mencapai tujuan belajar dari kelas tersebut.Di dunia e-learning Indonesia, Moodle lebih dikenal fungsinya sebagai Course Management System atau "Learning Management System" (LMS). Dengan tampilan seperti halaman web pada umumnya, Moodle memiliki fitur untuk menyajikan kursus (course), dimana pengajar bisa mengunggah materi ajar, soal dan tugas. Murid bisa masuk log ke Moodle kemudian memilih kursus yang disediakan atau di-enroll untuknya. Aktivitas murid di dalam Moodle ini akan terpantau progress dan nilainya. Di Indonesia sendiri, diketahui bahwa Moodle telah dimanfaatkan untuk sekolah menengah, perguruan tinggi dan perusahaan.
2.      Siswa (testee)
Siswa sebagai pengguna . jika tidak ada siswa meskipun prasarana yang lain sudah tersedia tidak memungkinkan terlaksanaan online assessment.
3.      Materi Soal
Materi yang dimaksud adalah materi yang sudah diterima oleh siswa atau materi yang sudah diajarkan kepada siswa.materi tersebut akan di dijadikan acuan untuk membuat soal.
4.      Soal (objek yang akan diteliti atau dianalisis)
Soal disesuaikan dengan materi yang sudah diberikan kepada siswa. Terdapat beberapa macam soal diantaranya soal pilihan ganda, soal benar salah, soal melengkapi  jawaban , soal jawaban singkat dan soal menjodohkan. Dalam pembuatan soal dianjurkan dengan menggunakan prinsip-prinsip yang ada dan pengukuran tingkat kesukaran soal.
5.      Kemampuan siswa dalam menggunakan moodle
Sebelum menggunakan asessment online (penilaian online), hal yang sangat sepele tetapi jika tidak dilakukan akan menyebabkan adanya sedikit permasalahan dalam pelaksanaan asessment online (penilaian online). Hal tersebut adalah pelatihan tentang menggunakan atau mengoperasionalkan asessment online (penilaian online). Kalau dilihat dari segi permasalahannya memang tidak begitu besar, akan tetapi ketika siswa belum mengerti atau belum faham tentang assesment online (penilaian online), maka pada waktu pelaksanaan akan menyita waktu yang relatif lama. Karena masih menjelaskan tentang cara-cara log in dan lain sebagainya. Oleh karena itu untuk lebih memudahkan atau menggunakan asessment online (penilaian online) jauh-jauh hari sebelum pelaksanaan siswa diberi pengarahan atau pelatihan tentang menggunakan asessment online (penilaian online), sehingga ketika waktu pelaksanaan siswa diharpkan sudah mampu dan bisa langsung mengerjakan soal-soal yang sudah tersedia dalam asessment online (penilaian online).
6.      Data base
Database merupakan tempat untuk menampung data yang ada di moodle. Semua data yang ada seperti user, template moodle, dll. semua disimpan di database.
7.      Web Hosting
Web hosting merupakan layanan untuk mengunggah moodle ke server dunia maya. Tujuannya adalah e-learnig atau moodle yang kita buat dapat diakses oleh pengguna internet diseluruh dunia.



reference:
http://smkperbanas.com/index.php/artikel 

Jumat, 02 November 2012

Membuat Soal Pilihan Ganda (Multiple Choice)

Pembuatan soal ujian online dapat dilakukan oleh Guru. Pertama, login sebagai guru di http://asesmen.mdl2.com. Masuk ke sekolah dan kelas yang diperuntukkan untuk Anda.
Note: pelajari tutorial sebelumnya: http://asesmen2.blogspot.com/2012/10/menulis-soal.html
image
Kedua, klik matapelajaran atau mataujian. Sebagai contoh: Operasi Bilangan Bulat.
image
Klik tombol Edit quiz.
image
Klik tab Edit kuis.
image
Klik Add a question.
image
Pilih Multiple choice, kemudian klik tombol Selanjutnya.
image
Pilih One answer only untuk membatasi 1 opsi saja jawaban yang benar. Shuffle the choices? atau pilihan mengacak opsi jawaban, dinon-aktifkan. Number the choices? gunakan A.. B.. C.. huruf kapital.
Pengaturan lainnya: beri nilai 100% pada opsi jawaban benar. Serta, atur Settings for multiple tries menjadi maksimal sekali menjawab dengan mengatur Penalty for each incorrect try menjadi 100%.
image
Kemudian, simpan perubahan.
Demikian tutorial. Silahkan mencoba. Semoga bermanfaat.

Kamis, 01 November 2012

Tugas Menulis Artikel

Sebagai pengganti Ujian Tengah Semester (UTS) tulis, mahasiswa secara berkelompok menulis artikel yang terkait dengan Online Assessment (penilaian online).

Artikel ditulis menggunakan program Microsoft Word (2007 atau 2010), dengan ekstensi file .doc atau .docx. Format kertas A4 dan tepian (margin): kiri 4 cm, atas 4 cm, kanan 4 cm, dan bawah 3 cm. Minimal 10 halaman, dengan asumsi jumlah anggota 5 orang, maka masing-masing menulis 2 halaman. Jumlah halaman tersebut tidak termasuk halaman Cover, Daftar Isi, dan Daftar Pustaka.

Ketentuan penulisan mengacu pada Pedoman Penulisan Karya Ilmiah (PPKI) Unmuh Jember. Jika mengutip pendapat atau artikel online, cantumkan: alamat situs (termasuk nama file, jika ada), nama penulis, tanggal diupdate (diperbarui oleh penulisnya), dan tanggal Anda mengakses.

Artikel (print) di kumpulkan pada Rabu, 7 November 2012, maksimal pukul 10.30 WIB (sesuai jadwal UTS EHB), ke Bagian Akademik. Artikel (online) ditulis di blog http://asesmen2.blogspot.com. Undangan sebagai kontributor (penulis) sudah dikirim ke alamat email. Silahkan periksa email Anda.

Adapun topik atau tema sebagai berikut:

NO

KELOMPOK

TOPIK

1

5A1 dan 5B1

Pengertian dan sejarah penerapan Online Assessment.
Cantumkan batasan pengertian Online Assessment dari beberapa pakar atau lembaga yang kompeten, kemudian diskusikan dan kemukakan pengertian Online Assessment menurut pendapat kelompok Anda.
Sertakan sejarah penerapan, baik tingkat internasional, nasional, dan lokal.

2

5A2 dan 5B2

Keunggulan dan kekurangan Online Assessment.
Diskusikan keunggulan dan kekurangan dari berbagai sisi, misal: bagi siswa, guru, lembaga (sekolah), dan orangtua siswa. Juga bagi masyarakat akademik, dan Pemerintah.

3

5A3 dan 5B3

Faktor pendukung dan penghambat penerapan Online Assessment di sekolah-sekolah.
Meliputi sarana dan prasarana yang memungkinkan dan menghambat diterapkannya Online Assessment.

4

5A4 dan 5B4

Piranti keras (hardware), piranti lunak (software), dan piranti otak (brainware) yang diperlukan untuk menerapkan Online Assessment.

5

5A5 dan 5B5

Pemanfaatan HotPotatoes untuk membuat soal-soal Matematika sebagai pendukung penerapan Online Assessment. 

6

5A6 dan 5B6

Pemanfaatan Moodle sebagai Learning Management System (LMS) untuk mengelola konten sebagai pendukung penerapan Online Assessment.

7

5A7 dan 5B7

Masa depan atau harapan penerapan Online Assessment di sekolah-sekolah. Menyajikan fakta dan data pendukung penerapan, dan solusi alternatif terhadap hambatannya.